Dia... Dia... Dia... Sempurna (Reborn) - Part 44

Hari hari berikutnya gue jalanin serasa lebih indah, mungkin karena disini gue ketemu sama temen sekampung, jadi hidup gue gak terlalu ngebosenin. Andi sering ngajakain gue jalan, kadang berdua, kadang berempat sama siska dan santi.

Sedangkan hubungan gue dengan santi juga berjalan asik, dia udah lebih terbuka dalem segala hal, kadang kita bicara serius, kadang becanda, kondisi ini yang bikin gue lebih betah di Jakarta, perasaan gue mengatakan kalau dia juga memiliki perasaan yang sama dengan gue, tapi entah kenapa gue gak mampu ngomong ke dia. Gue takut dibilang cari kesempatan.

Suatu hari gue lagi jalan sama andi, dia nanyain hal yang serius ke gue.

"Den, lo mau sampe kapan kayak gini" tanya andi serius

"gini gimana ndi" jawab gue

"Yah gini, maaf sebelumnya den, kerjaan lo den, sampe kapan lo mau kerja kayak gini, kerja berat" kata andi, gue diem cukup lama, nyoba cerna pertanyaan andi

"hmmm, gak tau Ndi, gue juga bingung, cuma ini yang gue bisa kerjain" kata gue lesu

"mau sampe kapan den, sekrang sih ok, kita masih muda, tar klo usia kita nambah gimana" tanya andi

"terus gue harus gimana Ndi, gue gak ada keahlian apa apa" kata gue pasrah

"yaah, lo mungkin bisa kuliah den, lumayan den, apa yang lo dapet sekarang bisa lebih kalo lo kuliah" kata andi

"halah ndi, banyak juga sarjana yang nganggur" kata gue

"gini den, sarjana aja nganggur apalagi cuma tamatan SMA" kata andi, gue langsung terdiam, bener kata andi, klo sarja aja masih nganggur apalagi sekedar sma.

"bener klo lo beranggapan sekarang SMA lebih baik, tapi lo liat mayoritas pekerjaan mereka apa, palingan kerja keras, ada juga yang sukses, tapi gak sampe 10% nya den" kata andi
Gue merenungi omongan andi, omongannya emang bener, gue selama ini salah.

"Ok ndi gue sependapat sama lo, tapi biaya kuliah mahal ndi, terus gue mau bayar pake apa? daun?" tanya gue

"selagi lo ada niat semuanya bisa den, lo bisa kuliah sambil kerja" kata andi

"Gak mungkin ndi, lo tau kerjaan gue gimana, gak pernah ada waktu buat itu" kata gue

"yah lo cari kerjaan lain, yang waktunya fleksibel" kata andi

"kerjaan apaan?" kata gue

"gini den, klo saran gue, mendingan lo balik ke Palembang, kebetulan disana ada Univ. Swasta, yang lumayan bagus, biaya nya juga gak terlalu tinggi" kata andi

"lo ada ada aja ndi, klo gue balik gue kerja apaan?" tanya gue

"tenang aja, itu udah gue pikirin, kebetulan papa ada kenalan temen yang punya restaurant, klo lo mau lo bisa kerja disana, waktu kerjanya gak akan tabrakan sama kuliah, Jadwal bukanya emang dari pagi, tapi schedula shift, lo bisa minta shift kedua, masuknya jam 4 sore sampe 12 malem, klo lo kuliah pagi lo bisa kerja malem" kata andi
Gue pikirin ucapan Andi, menarik juga tawaran Andi, gue bisa lebih deket keluarga gue.

"tapi lo jangan ngarep gaji gede den, tapi gue pikir cukup buat biaya kuliah lo" kata andi, sepertinya dia ngeri pikiran gue, gue cuma nyengir

"oke ndi thanks, gue pikirin dulu ya, gue kayaknya tertarik sama saran lo" kata gue

"jangan lama lama, saran gue sih, akhir tahun ini lo balik, soalnya tahun ajaran baru kan bulan Juni, lo bisa kerja dulu sekitar 6 Bulanan, lumayan gajinya buat biaya pendaftaran, sekalian lo adaptasi ditempat baru" kata andi

"akhir tahun? 2 BUlan lagi dong" kata gue

"yaah, itu sih saran gue, tapi klo lo gak mau gak masalah, lo bisa balik tahun depan juga gak masalah" kata Andi

"Iya lah, gue pikirin dulu ya, thanks saran lo, pikiran gue lebih kebuka sekarang" kata gue

"itulah guna temen" kata andi "eh ngomong2 lo sama santi gimana?" tanya andi

"gimana apanya" tanya gue pura2 bego

"ah lo pura pura bego, hubungan lo den, udah sejauh mana" kata andi

"biasa aja ndi" kata gue

"ah lo, gue tau lo suka dia den, jujur aja kenapa" kata andi

"hmmm, sebenrnya sih iya, tapi gue bingung ndi, gue gak mau di cap nyari nyari kesempatan" kata gue

"hmm, saran gue sih, lo putusin sekarang, lo gak mau kejadian oca sama oliv ke ulang di santi kan, jangan terlalu sering mainin perasaan cewek den" kata andi

"hehehe, lagu lo ndi, kayak pujangga" kata gue nyengir

"yeee, gue serius bego" balas andi

"iyalah, tar gue pikirin juga" kata gue

"lo kebanyakan mikir, klo gue jadi lo, udah lama gue embat, kurang apa dia bro, cantik, baik, sexy lagi, tipe gue banget" kata andi

"otak lo mesum mulu sih" kata gue

"yeee, lelaki normal pasti gitu den" kata andi

"terserah lo deh" kata gue.
Kita lanjutin obrolan yang lebih ringan, gak berasa waktu udah malem, gue dianter balik.

Hampir setiap hari gue mikirin apa yang dibicarain andi waktu itu, akhirnya keputusan gue udah bulet buat balik, gak ada hal yang bisa nahan gue lama disini, di otak gue cuma ada satu kalimat "Untuk hidup yang lebih Baik" pikir gue.

Gue udah ngomong ke pak Tofik perihal ini, dia sepertinya nerima keputusan gue,
"Kalau saya sih setuju saja, asal kmu bisa lebih baik, itu kan hak kamu" kata pak tofik, ketika gue ungkapain rencana gue buat berhenti

"iya pak, terima kasih atas bantuan Bapak selama ini, mungkin kalau gak ada Bapak entah saat ini saya sudah jadi apa" kata gue

"ah, kmu ini, pertemuan dan perpisahaan allah yang atur, mungkin lain kali kita bisa berjodoh lagi" kata pak Tofik

"iya pak, sekalai lagi terima kasi" kata gue

"oh ya, rencanaya kapan kamu mau kembali ke Palembang" tanya pak tofik

"mungkin nanti pas akhir tahun Pak" kata gue

"baiklah kalo gitu, kamu baik2 ya disana" pesan pak Tofik,
Setelah percakapan itu, gue pikir belum tau kapan gue bakal ngomong ke Santi, gue gk tau apa tanggapan dia Nanti.

Minggu terakhir gue di Jakrta, gue coba ngomong ke santi,

"san, lo ada waktu" kata gue

"kenapa den, apa sih yang nggak buat lo" katanya sambil senyum

"ah lo bikin gue melayang" kata gue senyum "gini san, akhir minggu ini gue berencana balik ke Palembag" kata gue

"oooo, akhirnya lo balik juga, mau tahun baruan disana ya, terus kapan balik" tanya santi, sepertinya dia gak ngerti maksud gue

"sorry san, kayaknya gak balik lagi" kata gue, gue liat ekspresi santi sepertinya kaget, cukup lama dia diem, tiba tiba dia senyum,

"oooo, memang lo mau ngapain disana" tanya santi, dengan wajah yang gue tau pura2 seneng

"seperti kata lo san, gue mau kuliah, gue dapet informasi ada univ swasta yang lumayan bagus disana, terus gue juga bakal ada kerjaan disana" kata gue

"ooo gitu, yaudah klo gitu, lo baik baik disana ya" kata santi, terus dia langsun kembali natap monitor komputernya, gue merasa bersalah sebenernya, tapi mau gimana lagi "untuk hidup yang lebih baik" kata gue dalem hati.

Tibalah pada hari terakhir gue diJakarta, gue udah minta temenin cecep buat nyari tiket bus buat balik ke Palembang sebelum gue ngomong ke Santi tempo hari. Tiket sudah ditangan sekarang waktunya gue pamit ke semua yang ada disini, pagi2 bener gue udah pamit sama yang ada di gudang, Meilan dan Pak Agus menyayangkan gue balik, tapi mereka ngerti juga.

Pas gue ke toko gue liat pak Tofik sudah di toko, gue samperin beliau

"Pagi pak, saya mau pamit pak" kata gue

"hmmm iya kamu hati hati ya, bisa bisa jaga diri, semua apa yang kamu harepin bisa terkabul" kata pak tofik

"iya pak, sekali lagi terima kasih banyak atas bantuan bapak selama ini ke saya" kata gue

"iya, gak masalah, lagian kamu sudah saya anggep keluarga sendiri den" kata pak tofik senyum

"Santi mana ya pak" tanya gue, gue juga mau pamit ke dia.

"tuh di mobil, saya minta dia anter kamu ke terminal" kata pak tofik

"ooo gitu, maaf ngerepotin pak, terima kasih" kata gue, pak tofik cuma ngagguk, setelah bersalaman gue langsung ke arah mobil santi. gue buka pintunya, gue liat dia senyum ke gue, matanya bengkak.

"udah siap den" katanya

"sudah san" jawab gue.

Santi langsung jalan, "Den, bus nya Jam berapa" tanya santi

"Jam 2 san" jawab gue

"sekarang baru jam 8, kita jalan bentar yuk" ajak santi, gue gak bisa nolak juga, karena gue gak mau sia sian kesempatan terakhir gue bareng santi. Mungkin kesempatan terkahir gue adalah hari ini, entah kapan bisa ketemu dia lagi.

"boleh san" kata gue

santi memacu mobilnya ke daerah pantai ancol, setelah parkir dia turun, gue ikutin dia, gue jalan disampingnya. Sepanjang jalan dia hanya diam, gue berani in diri buat rangkul pundaknya dari samping, dia gak ada respon.

"Maafin gue ya san, gue tau lo gak bisa terima keputusan gue" kata gue
dia cuma diam, yang terdengar cuma isakan tanggis dia.

Dia meluk pinggang gue. "lo jahat den" kata santi
gue cuma diem "lo tega banget, lo pasti tau perasaan gue ke lo kan, gue tau lo gak bego den" kata santi setengah teriak.

"maaf san, gue tau perasaan lo ke gue, karena gue juga ada perasaan yang sama ke lo, tapi keputusan ini harus gue buat" kata gue
Dia cuma diem, dia dekap gue dengan erat, perpisahaan memang berasa berat.

"gue sayang lo den" kata santi.

"gue juga sayang lo san, dari awal gue ketemu lo" kata gue

"tapi kenapa lo gak pernah ngomong den, gue udah nunggu lama lo bilang ke gue" kata santi

"gue gak mau orang nilai gue berbeda san" kata gue

"gue gak perduli apa kata orang den, persetan dengan mereka, gue cuma pengen lo" kata santi

"maafin gue san" kata gue "Lo masih inget kata2 gue waktu dipuncak" tanya gue

"yang mana?" katanya

"cukup kita saling tau kalau kita saling sayang udah cukup bagi gue" kata gue "sekarang gue tau perasaan lo ke gue, itu udah cukup san" kata gue

"tapi nggak bagi gue den, gue mau lo seutuhnya, gak cuma perasaan lo" kata santi

"maaf san, gue gak bisa" kata gue, dia nangis tambah kenceng, gue tunggu dia tenang.

"baiklah kalo itu keputusan lo den, gue gak bisa ngehalangin lo, tapi gue tetep akan nunggu lo den, gue nunggu lo balik lagi kesini, terus lo nikahin gue" kata santi, santi berpikir terlalu jauh pikir gue.

"gue gak bisa janji san, gue gak bisa nebak arah hidup gue kedepan" kata gue

"gue gak perduli, gue akan nunggu lo" katanya
gue cuma diem,.
"den, yuk jalan sudah hampir siang, takut macet diajalan" tiba2 santi ngomong, kaena cukup lama kita saling diem. gue cuma ngangguk

diperjalanan dia cuma diem, gue juga gak tau harus ngomong apa, sesampai diterminal dia nganterin gue ke loket, bis nya kebetulan sudah dateng, gue langsung masuk, santi ngikutin gue kedalem

"lo gak papa kan kalo nunggu lo berangkat baru turu" kata santi

"gue malah mau minta lo disini lebih lama san" kata gue senyum

"sambil nunggu penumpang yang lain naik, kita ngobrol semuanya, dari hal2 kecil, terkadang gue liat mata santi berkaca2, sepertinya dia nahan tanggis dia.

Akhirnya semua penumpang sudah naik, bis tidak terlalu penuh, mungkin mereka akan menaikan penumpang di terminal lain pikir gue, sebelum bis berangkat, santi mendekatkan bibirnya ke bibir gue, terasa hangat, kecupan yang cukup lama membuat otak gue mencair.

"Ini agar lo selalu inget gue den, dan biar lo cepet balik kesini" bisi santi, gue gak bisa ngomong apa2, gue cuma diem dan natap matanya, air mata menetes dari matanya, lalu dia bergegas turun.

Gue cuma bisa menatap dia dari kaca jendela bis, dia jalan dengan cepat menuju mobilnya, tanpa menoleh ke gue. sebelum bis berangkat, gue masih sempat liat mobilnya melaju kelaur terminal.

Perpisahaan yang sangat menyakitkan, pikir gue.
Sepanjang perjalanan gue cuma bisa memikirkan santi, entah apakah keputusan gue ini tepat, tuhan pasti ada jalan pikir gue.