Keesokan harinya setelah
memperbaiki beberapa laptop di toko gua menemui Darno di rumahnya, Gak sulit
untuk menemukan Darno karena dia gak pernah keluar rumah sore hari setelah
pulang kerja. Seperti saat ini, dia sedang duduk di teras rumahnya ditemani
secangkir kopi.
“Masih sore, tar malem aja ngapelnya” Goda Darno
“Kampret” Protes gua
“Hahaha slow bos slow, ada apa nih tumben ke rumah”
“Anter gua yu”
“Kemana ?”
Gua duduk diteras dan
menceritakan kejadian tadi malam, Darno hanya diam dan terlihat geram mendengar
apa yang gua ceritakan. Tanpa mengganti pakaian, dia langsung memakai sepatu.
“Semangat banget lo” Sindir gua
“Hahaha, udah lama bos kita kaga gulet”
“Gua ngajak lo bukan buat gulet”
Darno yang sedang menalikan sepatu terlihat kecewa “Terus
?” Tanya dia
“Gua gak tau alamatnya dimana, lo
kan udah hatam daerah Bogor makanya gua minta anter sama lo”
“Kampretoooo kirain mau sewa gua buat gebugin tuh
anak”
“Ngaco lo, Yuk berangkat sebelum magrib”
“Gas dah”
Sekitar jam lima sore sampailah
kita di depan sebuah Rumah minimalis yang berada di antara pohon lengkuas,
entah setan atau siluman yang menempati rumah ini karena sekitarnya hanya
hamparan pohon lengkuas yang sangat banyak.
"Lo mau ngapain ?"
"Udah, liat aja entar"
"Awas lo kalo mancing hiu"
"lo lupa kalo gigi hiu gak mempan ama gua
?"
"Sial, masih make gituan aja lo
"
"Haha buat jaga diri"
Setelah mengatakan itu Darno
langsung mengucapkan salam dengan suaranya setengah teriak, selang beberapa
menit keluarlah seorang pria berkulit putih dengan rambut kriting yang masih
mengenakan seragam putih abu.
“Cari siapa mas ?” Tanya dia sambil menatap gua dan
Darno bergantian
“Gua yang semalem nelpon” Jawab gua
“Oh pantesan kaya gak asing, ayo masuk mas”
Gua parker motor di depan gerbang dan berjalan
masuk ke dalam diikuti Darno di belakang, kami dipersilahkan duduk di sofa yang
ada di ruang tengah.
Darno : “Sepi banget rumah lo”
Arif : “Emang kaya gini Bang tiap hari juga, sepi”
Gua : “Yaialah sepi, ini rumah ditengah kebon”
Darno : “Enak dong ya kalo bawa cewe, teriak-teriak
juga gak takut ada tetangga denger”
Arif : “Ah si Abang ngaco aja”
Darno : “Oya gua lupa, lo kan gak laku
”
Arif : “Maksudnya ?”
Darno : “Cuma orang gak laku yang ngejar-ngejar
bini orang”
Darno : “Kalo gitu, mana nyokap lo ? gua pengen
pake dia biar ada tantangannya”
Arif : “** SENSOR **!!”
Arif langsung berdiri dan mencengkram kerah baju
Darno, “Kenapa ? lo gak terima ? lo marah ?” Tanya Darno dengan senyum
menyeringai yang membuat Arif semakin emosi. Dia melepaskan kerah baju Darno
dan meninggalkan kami berdua, beberapa detik kemudian dia kembali dan
menodongkan katana di wajah Darno.
Darno hanya diam dan dengan
santainya menyalakan rokok, ini yang kadang gua bingung dari Darno dia selalu
bisa tenang walau dalam bahaya, “BACOK” Kata Darno dengan suara lantang “BACOK
kalo gak mau gua pake nyokap lo” Lanjut Darno, lalu Arif menarik katananya dengan
sedikit menangkat tangannya.
Gua bangun dan buru-buru
memegangi tangan kanan Arif sebelum dia benar-benar menebas Darno,
“LEPAS” Teriak Arif sambil
meronta-ronta, tapi gua semakin erat menggenggam pergelangan tangannya.
“Lo mau bunuh dia” Kata gua sambil menunjuk Darno
“IYA, GUA MAU BUNUH DIA”
“Seandainya, Dia deketin bini lo ? apa lo juga mau
bunuh dia ?”
“IYA LEPAS” Arif semakin kuat
meronta dan coba menendang gua tapi gua menunduk dan menyapu kaki kirinya
sampai dia ambruk dan katana itu terjatuh di lantai. Buru-buru dia ambil
kembali dan menebas gua dengan posisinya yang masih duduk di lantai. Hasilnya,
tangan kiri gua berlumuran darah karena menangkis katana itu.
“Siapa kalian ?”
Sebuah
suara menarik perhatian gua, Arif langsung menoleh ke belakang. Seorang
bapak-bapak yang hanya mengenakan kolor biru menghampiri kami dengan tubuh yang
dipenuhi dengan tato.
“……………….” Suasana menjadi hening,
TRAKK… Arif
langsung menjatuhkan katananya di lantai
“Pah mereka mau bunuh Arif” kata Arif mengadu
BUGH…. bapak-bapak itu justru
menendang wajah Arif sampai keluar darah dari mulutnya BUGH BUGH…. Bapak-bapak
itu terus mendang perut Arif yang masih duduk di lantai sampai meringis
kesakitan.
Gua menatap Darno yang masih
duduk santai di sofa dengan rokok ditangan kananya, dia hanya kernyitkan dahi
seolah sama bingungnya melihat pemandangan yang ada dihadapannya.
Setelah puas memukuli anaknya
sendiri dia datang menghampiri gua dan melihat luka ditangan kiri gua,
“Ini harus buru-buru diobatin” kata dia kemudian
“Gak apa-apa kok pak” Jawab gua
“Dari tadi saya denger pembicaraan kalian”
“………….” Gua hanya diam, “jadi
dari tadi bokapnya menguping pembicaraan kami” Batin gua
“Apa Arif bikin maslaah ?”
Daro langsung bangun dan menghampiri kami, “Gak ada
asap kalo gak ada api pak”
Bapak-bapak : “Maksud kamu ?”
Darno : “Tadi saya ngomong gitu
bukan mau mancing emosinya Arif, saya mau liat seibaratnya yang ada di posisi
temen saya itu Arif apa dia bakalan diam atau marah. Nah bapak liat sendiri,
Arif gak terima kan”
Bapak-bapak : “Jadi maksudnya Arif deketin istri
kamu ?”
Gua : “Bukan pak, tapi istri saya”
Arif : “Bohong pah, Arif gak pernah deketin istri
orang kok”
Gua : “Dian itu bini gua”
Arif terlihat syok saat gua
mengatakan itu, lalu gua menjelaskan kalau kedatangan gua ke sini untuk memberi
tahu Arif agar dia coba cari wanita lain karena kalau dia terus mengejar Dian
itu sama saja dia coba merusak rumah tangga orang.
Mendengar pernyataan itu Arif langsung meminta maaf
dan dia berjanji gak akan
menghubungi Dian lagi, begitu
juga bokapnya yang menceramahi Arif agar mencari wanita lain.
Setelah suasana yang tegang mulai
terkendalikan lagi, kami pamit pulang tapi sebelum pulang bokapnya memberikan
uang untuk biaya pengobatan tangan kiri gua.
Sepanjang jalan di dalam mobil Darno terus protes
"Pedahal kalo lo abisin tuh bocah kan ada
alesan dia yang duluan bacok"
"Menurut lo kalo gua abisin tuh bocah, masalah
kelar ?"
"Iyalah, dia gak bakalan berani deketin bini
lo lagi"
"Salah"
"Apanya yang salah ?"
"Kalo gua abisin tuh bocah yang ada malah
tambah masalah"
"Ah gak seru lo, dulu aja lo main hantem anak
orang"
"Itukan dulu, sekarang kita udah tua. masa
masih mau kaya ABG pemikirannya"
"Yang udah tua itu lo ya, gua masih perjaka
"
"Perjaka lo udah diambil sabun, segala ngaku
perjaka"
"KAMPRETTT..."
"Hahahaha 
"
Gua pikir setelah menikah masalah dalam hubungan
hanyalah kebutuhan rumah tapi ternyata, masalah seperti pacaran pun masih ada.
Hari ini gua dan Darno berhasil mengusir tamu tak diharapkan dalam sebuah
hubungan, yah gua selalu berpikir agar sebuah hubungan langgeng jangan sampai
ada kata 'dia'.
Tapi kedepannya siapa yang tahu,
mungkin bakalan ada Arif lain coba membuka pintu yang terkunci rapat itu. Dan
gua selalu coba berpikir positif dari setiap masalah yang ada, karena apa yang
gua lakukan dimasalalu pasti akan gua dapatkan imbasnya dimasa yang akan
datang.
Aku Kau dan Sabun Part 101