Aku Kau dan Sabun Part 100



Keesokan harinya setelah memperbaiki beberapa laptop di toko gua menemui Darno di rumahnya, Gak sulit untuk menemukan Darno karena dia gak pernah keluar rumah sore hari setelah pulang kerja. Seperti saat ini, dia sedang duduk di teras rumahnya ditemani secangkir kopi.

“Masih sore, tar malem aja ngapelnya” Goda Darno

“Kampret” Protes gua

“Hahaha slow bos slow, ada apa nih tumben ke rumah”

“Anter gua yu”

“Kemana ?”

Gua duduk diteras dan menceritakan kejadian tadi malam, Darno hanya diam dan terlihat geram mendengar apa yang gua ceritakan. Tanpa mengganti pakaian, dia langsung memakai sepatu.

“Semangat banget lo” Sindir gua

“Hahaha, udah lama bos kita kaga gulet”

“Gua ngajak lo bukan buat gulet”

Darno yang sedang menalikan sepatu terlihat kecewa “Terus ?” Tanya dia

“Gua gak tau alamatnya dimana, lo kan udah hatam daerah Bogor makanya gua minta anter sama lo”

“Kampretoooo kirain mau sewa gua buat gebugin tuh anak”

“Ngaco lo, Yuk berangkat sebelum magrib”

“Gas dah”



Sekitar jam lima sore sampailah kita di depan sebuah Rumah minimalis yang berada di antara pohon lengkuas, entah setan atau siluman yang menempati rumah ini karena sekitarnya hanya hamparan pohon lengkuas yang sangat banyak.

"Jjangan langsung ke inti permasalahan" kata Darno

"Lo mau ngapain ?"

"Udah, liat aja entar"

"Awas lo kalo mancing hiu"

"lo lupa kalo gigi hiu gak mempan ama gua ?"

"Sial, masih make gituan aja lo "

"Haha buat jaga diri"

Setelah mengatakan itu Darno langsung mengucapkan salam dengan suaranya setengah teriak, selang beberapa menit keluarlah seorang pria berkulit putih dengan rambut kriting yang masih mengenakan seragam putih abu.

“Cari siapa mas ?” Tanya dia sambil menatap gua dan Darno bergantian

“Gua yang semalem nelpon” Jawab gua

“Oh pantesan kaya gak asing, ayo masuk mas”

Gua parker motor di depan gerbang dan berjalan masuk ke dalam diikuti Darno di belakang, kami dipersilahkan duduk di sofa yang ada di ruang tengah.

Darno : “Sepi banget rumah lo”

Arif : “Emang kaya gini Bang tiap hari juga, sepi”

Gua : “Yaialah sepi, ini rumah ditengah kebon”

Darno : “Enak dong ya kalo bawa cewe, teriak-teriak juga gak takut ada tetangga denger”

Arif : “Ah si Abang ngaco aja”

Darno : “Oya gua lupa, lo kan gak laku

Arif : “Maksudnya ?”

Darno : “Cuma orang gak laku yang ngejar-ngejar bini orang”

Arif : “Bukannya kalo ngejar bini orang itu lebih ada tantangannya”

Darno : “Kalo gitu, mana nyokap lo ? gua pengen pake dia biar ada tantangannya”

Arif : “** SENSOR **!!”

Arif langsung berdiri dan mencengkram kerah baju Darno, “Kenapa ? lo gak terima ? lo marah ?” Tanya Darno dengan senyum menyeringai yang membuat Arif semakin emosi. Dia melepaskan kerah baju Darno dan meninggalkan kami berdua, beberapa detik kemudian dia kembali dan menodongkan katana di wajah Darno.

Darno hanya diam dan dengan santainya menyalakan rokok, ini yang kadang gua bingung dari Darno dia selalu bisa tenang walau dalam bahaya, “BACOK” Kata Darno dengan suara lantang “BACOK kalo gak mau gua pake nyokap lo” Lanjut Darno, lalu Arif menarik katananya dengan sedikit menangkat tangannya.

Gua bangun dan buru-buru memegangi tangan kanan Arif sebelum dia benar-benar menebas Darno,

“LEPAS” Teriak Arif sambil meronta-ronta, tapi gua semakin erat menggenggam pergelangan tangannya.

“Lo mau bunuh dia” Kata gua sambil menunjuk Darno

“IYA, GUA MAU BUNUH DIA”

“Seandainya, Dia deketin bini lo ? apa lo juga mau bunuh dia ?”

“IYA LEPAS” Arif semakin kuat meronta dan coba menendang gua tapi gua menunduk dan menyapu kaki kirinya sampai dia ambruk dan katana itu terjatuh di lantai. Buru-buru dia ambil kembali dan menebas gua dengan posisinya yang masih duduk di lantai. Hasilnya, tangan kiri gua berlumuran darah karena menangkis katana itu.

“Siapa kalian ?”

Sebuah suara menarik perhatian gua, Arif langsung menoleh ke belakang. Seorang bapak-bapak yang hanya mengenakan kolor biru menghampiri kami dengan tubuh yang dipenuhi dengan tato.

“……………….” Suasana menjadi hening,

TRAKK… Arif langsung menjatuhkan katananya di lantai

“Pah mereka mau bunuh Arif” kata Arif mengadu


BUGH…. bapak-bapak itu justru menendang wajah Arif sampai keluar darah dari mulutnya BUGH BUGH…. Bapak-bapak itu terus mendang perut Arif yang masih duduk di lantai sampai meringis kesakitan.

Gua menatap Darno yang masih duduk santai di sofa dengan rokok ditangan kananya, dia hanya kernyitkan dahi seolah sama bingungnya melihat pemandangan yang ada dihadapannya.

Setelah puas memukuli anaknya sendiri dia datang menghampiri gua dan melihat luka ditangan kiri gua,

“Ini harus buru-buru diobatin” kata dia kemudian

“Gak apa-apa kok pak” Jawab gua

“Dari tadi saya denger pembicaraan kalian”

“………….” Gua hanya diam, “jadi dari tadi bokapnya menguping pembicaraan kami” Batin gua

“Apa Arif bikin maslaah ?”

Daro langsung bangun dan menghampiri kami, “Gak ada asap kalo gak ada api pak”

Bapak-bapak : “Maksud kamu ?”

Darno : “Tadi saya ngomong gitu bukan mau mancing emosinya Arif, saya mau liat seibaratnya yang ada di posisi temen saya itu Arif apa dia bakalan diam atau marah. Nah bapak liat sendiri, Arif gak terima kan”

Bapak-bapak : “Jadi maksudnya Arif deketin istri kamu ?”

Gua : “Bukan pak, tapi istri saya”

Arif : “Bohong pah, Arif gak pernah deketin istri orang kok”

Gua : “Dian itu bini gua”

Arif terlihat syok saat gua mengatakan itu, lalu gua menjelaskan kalau kedatangan gua ke sini untuk memberi tahu Arif agar dia coba cari wanita lain karena kalau dia terus mengejar Dian itu sama saja dia coba merusak rumah tangga orang.

Mendengar pernyataan itu Arif langsung meminta maaf dan dia berjanji gak akan


menghubungi Dian lagi, begitu juga bokapnya yang menceramahi Arif agar mencari wanita lain.

Setelah suasana yang tegang mulai terkendalikan lagi, kami pamit pulang tapi sebelum pulang bokapnya memberikan uang untuk biaya pengobatan tangan kiri gua.

Sepanjang jalan di dalam mobil Darno terus protes

"Pedahal kalo lo abisin tuh bocah kan ada alesan dia yang duluan bacok"

"Menurut lo kalo gua abisin tuh bocah, masalah kelar ?"

"Iyalah, dia gak bakalan berani deketin bini lo lagi"

"Salah"

"Apanya yang salah ?"

"Kalo gua abisin tuh bocah yang ada malah tambah masalah"

"Ah gak seru lo, dulu aja lo main hantem anak orang"

"Itukan dulu, sekarang kita udah tua. masa masih mau kaya ABG pemikirannya"

"Yang udah tua itu lo ya, gua masih perjaka "

"Perjaka lo udah diambil sabun, segala ngaku perjaka"

"KAMPRETTT..."

"Hahahaha "

Gua pikir setelah menikah masalah dalam hubungan hanyalah kebutuhan rumah tapi ternyata, masalah seperti pacaran pun masih ada. Hari ini gua dan Darno berhasil mengusir tamu tak diharapkan dalam sebuah hubungan, yah gua selalu berpikir agar sebuah hubungan langgeng jangan sampai ada kata 'dia'.

Tapi kedepannya siapa yang tahu, mungkin bakalan ada Arif lain coba membuka pintu yang terkunci rapat itu. Dan gua selalu coba berpikir positif dari setiap masalah yang ada, karena apa yang gua lakukan dimasalalu pasti akan gua dapatkan imbasnya dimasa yang akan datang.



Aku Kau dan Sabun Part 101