Selama liburan sekolah gua hanya
menghabiskan waktu di kamar, Darno dan yang lain mengajak gua main tapi gua
engga menerima ajakan itu. Bukan gua malas tapi karena di sana Kanza pun hanya
menghabiskan waktu di rumah, bermain dengan adiknya dan setiap malam
YM’an sampai dia ketiduran.
Dua minggu waktu yang begitu
terasa lama, mungkin karena setiap hari gua bersama Kanza jadi terasa ada yang
hilang. Waktu yang ditunggu-tunggu tiba, pagi ini gua buru-buru berangkat
sekolah pedahal yang wajib datang adalah Panitia MOS tapi gua tetap bersemangat
datang ke sekolah.
Setelah memarkirkan motor gua berjalan ke bangku
dekat gerbang sekolah tempat biasa gua menunggu Kanza datang, satu persatu
siswa baru mulai berdatangan dan beberapa siswa yang belum Daftar ulang. Gua
ambil hp di tas dan mengetik sebuah pesan
Di sini, tempat yang selalu kami
gunakan untuk menghabiskan waktu di sekolah. Tempat ini menjadi saksi
perjalanan kami selama kurang lebih satu tahun, dari atas sini gua melihat
Kanza dan teman-temannya keluar dari ruang OSIS. Kanza melihat ke arah sini dan
melemparkan senyuman dengan tangan yang dia lambaikan, lalu dia berjalan ke
arah tangga.
Engga lama kemudian terdengar
suara langkah kaki yang menaiki tangga, dia tersenyum begitu manis dengan wajah
yang terlihat makin cantik.
“BOBIIII” Teriak dia walau pun jarak kami hanya
sekitar 2 meter
“KANZAAAA” gua ikut teriak
Kami
hanya ngobrol-ngobrol ringan melepas kangen selama liburan, setelah Bell
berbunyi gua dan Kanza turun ke bawah karena Kanza harus mengikuti Acara MOS
sedangkan gua pergi ke Kantin karena tadi terlalu bersemangat jadi engga
sarapan.
“Jem biasa ya”
“Siap, sendirian aja mas Bob ?” tanya Ijem sambil
membuatkan Bakso
“Ia gua sendirian, tapi lo engga”
“Ah Mas ini gimana sih Ijem kan jualan sendiri”
“Sebenernya lo gak sendirian”
“Maksudnya mas bob ?”
“ada 2 Makluk yang lagi berdiri disamping
lo yang satu lagi grepe yang satu lagi ngelus-ngelus pantat lo” “Kalo 2 makluk
itu Mas Bob ijem mau” Kata dia sambil mengedip-ngedipkan matanya
“Busettt lama engga ketemu masih ngeres aja tuh
otak lo jem”
“Hehe tapi kan sekarang ada Nenk
Kanza ya, mana mau Mas Bob ama Ijem yang udah kendor”
“Tau ah Jem lo ngomong mulu mana Baksonya laper gua”
“Ini udah jadi Mas bob” Kata dia sambil jalan dan
menaruh Bakos di meja
sambil
memakan Bakso gua ambil hp disaku lalu coba mengetik SMS untuk Kanza tapi gua
hapus lagi lalu gua ketik lagi dan gua hapus kembali. Karena gua bingung ngirim
SMS apa gua coba masuk internet dan membuka facebook yang sudah lama engga gua
buka.
Banyak status Kanza yang menandai gua, tapi karena
gua jarang membuka facebook jadi dia seperti bicara dengan tembok yang engga
menjawab perkataannya. Gua mampir ke profil Kanza, banyak yang mengomentari
foto-fotonya tapi engga ada seorang pun yang dia respon.
Walau gua suka cemburu melihat
komentar-komentar mereka yang memuji-muji Kanza atau sekedar ingin berkenalan,
tapi itu resiko memiliki pacar cantik jadi gua coba selalu bersabar setiap kali
melihat orang menggoda dia di sosmed.
Setelah bakso habis gua berjalan meninggalkan
kantin dan kembali ke lantai 3, gua
SSSsshhhhhhh
Hhhhuuuuuuu…. Gua hisap dalam-dalam rokok dan menghembuskannya
“EHM” gual langsung menoleh kea rah suara itu,
“Ehh Bapak kirain siapa” lalu dia mendekati gua dan
duduk disamping “Rokok pak” sambil gua menyodorkan rokok yang tadi gua letakan
di bangku, lalu dia mengambil satu batang rokok dan membakarnya.
“Bukannya bantuin yang lain malah ngudud di sini”
“Hehe saya bukan panitia pak”
“Owh pantesan, saya lihat kamu deket sama Ijem
punya nomor hpnya gak?”
“Wahhh bapak diem-diem suka ama janda nih” Goda gua
“Stttttt jangan berisik”
“Hahaha iya iya, mana nomor Bapak entar saya kirim
kontaknya”
“087Xxxxxxx”
“Udah saya kirim Pak”
“Jangan kasih tau yang lain ya”
“Beres Pak”
Lalu dia berdiri dan berjalan
meninggalkan gua, dia adalah Pak Budi guru olahraga. Dia adalah guru yang
paling akrab dengan murid termasuk dengan gua.
Aku Kau dan sabun Part 28