Gua melaju dengan kecepatan penuh ke rumah sakit
yang bi Romlah beri tahu lewat SMS, kenapa Kanza bisa masuk Rumah sakit ? apa
dia sakit ? tapi kemarin dia engga ngeluh sakit atau ada tanda-tanda sakit.
Begitu banyak pertanyaan-pertanyaan yang melintas di otak sampai beberapa kali
gua hampir menabrak kendaraan karena engga konsentrasi bawa motor. Setelah
memarkirkan motor gua langsung lari dengan tergesa-gesa menuju tempat di mana
Bi Romlah menunggu.
Huh Hahhh Huuh Hahh.. napas gua terengah-engah, Bi
Romlah langsung berdiri dari tempat
duduk yang ada di dekat pintu masuk saat melihat gua datang.
“Kanza di mana Bi”
“………….” Dia hanya diam sambil sesenggukan, lalu dia
berjalan membuka pintu
CKREK
beberapa
suster yang sedang bertugas menoleh ke arah kami yang baru masuk, Bi Romlah
berjalan dengan gua yang mengikutinya dibelakang menuju sebuah ranjang yang
berada di pojok ruangan.
Gua engga melihat senyuman manis
yang biasa dia lontarkan, Kanza hanya diam tanpa memanggil nama gua seperti
setiap kali kita bertemu. Rasanya begitu sakit melihatnya, dada ini terasa
begitu sesak saat Bi Romlah membuka Kain putih yang menutupi bagian wajah
Kanza. Air mata tak dapat terbendung lagi saat melihat wajahnya yang pucat
dengan luka-luka di dekat mata.
“Z ZA…” gua coba memanggilnya
“Mas Bob, neng Kanza udah engga ada”
“…………”
Mendengar Bi Romalah bicara seperti itu gua sedikit
memutar badan dan menatap Bi Romlah seolah engga percaya dengan apa yang dia
ucapkan, ini pasti bohongkan ? jawab ini pasti BOHONG teriak gua dalam hati.
“Tadi pagi…. Tadi pagi neng Kanza
bangun kesiangan terus dia bawa motor takut telat kalo naik angkot, pedahal
biasanya neng Kanza paling gak mau bawa motor ke sekolah. Kata tukang dagang
yang jualan di deket SD dia bilang ada anak SD yang nyebrang sembarangan, anak
SD itu ampir ketabrak motor yang lagi ngebut tapi yang bawa motor ngebuang ke
kanan, dari arah berlawanan ada
neng Kanza lagi ngebut jadi motor mereka adu domba, neng Kanza mental dari
motor trus kepalanya duluan yang ngebentur jalan. Warga yang ada disekitar
sekolah SD langsung lariin neng Kanza sama orang itu ke sini” Kata Bi Romlah
menjelaskan
“Terus yang nabraknya gimana Bi ?
ORANGNYA MANA ?” Tanya gua sambil menggoyang-goyang bahu Bi Romlah
“Yang nabraknya udah dibawa pulang duluan Mas, dia meninggal
waktu dalam perjalanan ke rumah sakit” Setelah mendengarkan penjelasan gua
lepas bahu Bi Romlah dan kembali menatap wajah Kanza.
“ZA….”
“………”
“Za… bangun, za…”
“……….”
“Za… jangan tinggalin gua Za”
“……….”
“Za… Kanza…. Kanza…” ditengah
isak tangis gua terus memanggil Kanza dengan suara semakin pelan sampai gua
sendiri engga bisa mendengarnya.
Gua gak tau harus berbuat apa,
Gua hanya bisa nangis. Semua kenangan bersama Kanza seperti diputar secara
bersamaan.
BOBIII suara dia memanggil gua masih terngiang ditelinga,
rasanya seperti mendengar dia memanggil
nama gua
Saat kita pertama kali bertemu,
saat kita menghabiskan waktu bersama, dan saat kita menentukan halaman akhir
kisah yang kita buat. Tapi kenyataannya rencana yang kita rangkai engga sama
dengan rencana yang telah Tuhan siapkan untuk kita.
Mata gua terbelalak saat sebuah
tangan memegang bahu sebelah kanan, gua sedikit memutar badan dan menolehnya “Kamu
Bobi ?” Tanya seorang bapak-bapak yang menggunakan jas hitam sambil menggendong
anak kecil bersama seorang peremuan yang menutup mulutnya sambil menangis.
“……..” gua hanya manggut-manggut, entah kapan
mereka datang sepertinya lamunan tadi
membuat gua engga menyadari kedatangannya. Dari
wajahnya Bapak-bapak ini sedikit mirip dengan Kanza tapi ibu-ibu disampingnya
dia terlihat orang sunda asli, sepertinya ini nyokap tiri dan adiknya.
“tolong ikhlasin kepergian Kanza”
Kata bokapnya dengan suara bergetar dan mata yang berkaca-kaca
“I. iya.. om” gua jawab dengan terbata-bata sambil
masih sesenggukan
Engga lama kemudian bokapnya
meninggalkan kami, sedangkan nyokapnya berdiri disamping gua sambil menggendong
anaknya.
“Mah mah, kaka tidur ya ?” Tanya anak kecil itu
sambil menunjuk-nunjuk Kanza
“Iya, kaka lagi tidur” Jawab Nyokapnya
“Kok mamah nangis ?” Tanya adiknya sambil
mengusap-ngusap air mata nyokapnya
“………….” Nyokapnya hanya diam dan tangisannya
semakin deras
Setelah
semua urusan di rumah sakit beres gua ikut ke rumah orang tuanya yang berada di
daerah Jakarta Selatan, beberapa orang kerabat dan saudara Kanza menyambut
kedatangan mobil Ambulance yang baru datang di rumah Duka.
Gua berjalan mengikuti beberapa
orang yang membawa Kanza ke ruang tengah, Rumah ini terlihat begitu besar dan
rapih. Gua duduk di samping Kanza yang sedang terbaring dengan wajah yang
tertutup oleh kain putih, lalu gua ambil Al-Qur’an yang disediakan dan ikut
membaca surat Yasin bersama beberapa orang.
Sekitar jam 15:00 dari Masjid
beberapa mobil dan motor mengikuti sebuah mobil berwarna hitam yang membawa
Kanza menuju TPU yang terletak engga jauh dari sini, Gua duduk di bangku
belakang mobil bersama nyokap dan Adiknya yang sedang tidur. Gua hanya diam
sedangkan nyokapnya terus mengusap air matanya dengan sapu tangan yang terlihat
sudah basah.
“Tinggal Veryn”
“……………” Gua menolehnya seolah bertanya “Maksudnya”
“Dulu Kanza begitu menyayangi Sebastian” nyokapnya
mulai bicara
“……………”
“Tapi Sebastian meninggal di usia 3 tahun saat
Kanza baru masuk SMP. Kanza jadi pendiem, dia kehilangan keceriaannya sampai
akhirnya dia punya adik baru yang Kanza sendiri kasih nama Veryn”
“……………...” Gua hanya diam mendengarkan nyokapnya
bercerita
“Maaf ibu jadi banyak cerita” Kata dia sambil
mengusap air matanya
“Engga apa-apa bu”
“Ibu sering denger cerita tentang Nak Bobi dari
Kanza”
“………….” Gua kembali diam
“Ibu bersyukur Kanza ketemu orang yang tepat”
“Maksudnya bu ?”
“Papah itu orangnya keras, dia
ngelarang Kanza pacaran. Tapi waktu malem itu Kanza terus terang kalo dia udah
lama pacaran sama Nak Bobi, awalnya Papah marah tapi Kanza minta Papah buat
dengerin cerita dia dulu”
“Emang Kanza cerita apa aja Bu ?”
“Banyak yang Kanza ceritain, sampe Papah ngizinin
buat pacaran”
“…………”
“Maafin Kanza ya nak Bobi kalo selama ini banyak
ngerepotin”
“I iya bu udah saya maafin”
Sekitar jam 16:00 gua ikut
menggotong keranda Jenazah ke sebuah liang lahad yang berada di tengah-tengah
TPU, rasanya engga rela saat melihat Kanza harus sendirian di dalam sana dengan
Papan yang menghimpit tubuhnya. Satu orang menginjak-nginjak tanah dan 2 orang
menurunkan tanah dengan cangkul dari atas. lantunan Do’a dan isak tangis
mengiringi kepergiannya.
Saat ombak menghapus nama yang
kita tulis di pasir, kita akan bisa menulisnya lagi. Tapi saat Tuhan memanggil,
kita hanya bisa mendo’akannya.
Terima kasih untuk warna-warna indah yang kamu
berikan dalam hari-hariku
Terima kasih kamu mengajarkanku memaafkan orang
yang selama ini aku benci
Terima kasih karena kamu aku bisa
meninggalkan kebiasaan buruk yang selama ini melekat dalam diriku
Terima kasih Tuhan, Engkau telah
mempertemukan aku dengan seseorang yang membuat hidupku lebih baik, tapi
kenapa…
Kenapa Engkau harus memanggilnya secepat ini,
Kenapa Engkau hanya mengijinkan
kami untuk membuat rencana sedangkan Engau tidak memberikan kesempatan untuk
kami mewujudkannya.
“Bengong aja” Kata Kanza yang baru keluar dengan
sebuah tas yang dia gendong
“Engga kok, gua suka bunganya boleh gua petik ?”
“Jangan”
“Kenapa ? harus bayar ya”
“Bukan, kalo kamu petik ntar layu bunganya”
“Ya gua taro pot lah biar gak layu”
“Kalo kamu gak bisa jagainnya gimana ?”
“Tinggal ke sini terus minta bunganya lagi
”
“Kamu gak boleh segampang itu”
“Maksudnya ? ”
“Gini gini, kamu kan suka
bunganya kalo bunga itu layu kamu jangan segampang itu ganti sama yang baru”
Kanza coba menjelaskan
“Ribet bener Cuma bunga juga
yu ah
berangkat” Ajak gua sambil berdiri
Za… maaf… maaf… maaf aku terlalu bodoh, aku baru
mengerti sekarang saat aku kehilangan kamu. Saat kita menyukai sesuatu, jangan
semudah itu menggantinya. Begitu juga saat kita mencintai seseorang, jangan
semudah itu membuka hati untuk yang lain. Dulu aku memang sering berganti-ganti
pasangan, karena aku emang engga memiliki perasaan kepada
Inilah halaman akhir dari kisah
yang telah kita tulis selama ini, Walau terasa sangat sulit menerimanya tapi
aku harus bisa menerima kenyataan. Sama seperti yang pernah kamu ucapinkan Za ?
Aku harus bisa terima kenyataan apapun dan sesakit apapun kenyataan itu.
Seandainya suatu saat nanti Tuhan kembali
mempertemukan aku dengan seseorang yang mungkin akan menjadi istri dan seorang
ibu untuk anak-anakku kelak, Kanza Azzahra akan tetap selalu ada di hatiku. Aku
berharap semua kenangan tentang kita engga akan pernah terhapus oleh usia dan
waktu.
Aku Kau dan sabun Part 43