Setelah kepergian Kanza hari-hari
yang gua lalui di sekolah hanya dihabiskan dengan menyendiri, gua yang usil dan
engga bisa diam berubah jadi sosok pendiam. Kadang teman-teman di kelas coba
membuat lelucon agar gua engga terlihat sedih tapi itu engga ada gunanya,
karena gua tetap sibuk dengan lamunan. Kadang teman-teman yang gagal membuat
gua tertawa jadi ikut diam dan menatap gua dengan penuh harap agar gua engga
terus menerus larut dalam kesedihan, tapi gua coba tersenyum ke arah mereka
untuk menutupi apa yang gua rasakan. Walau pun gua sendiri engga tahu apa arti
senyuman itu, karena jelas sangat bertolak belakang dengan apa yang gua
rasakan.
Setelah bell pulang gua berjalan
naik ke lantai 3, masih di tempat yang sama, diwaktu yang sama namun dengan
suasana yang sangat berbeda.
Gua hanya diam sambil menyandarkan badan di bangku
tempat biasa menghabiskan waktu dengan Kanza, kadang gua seperti masih melihat
dia ada di sini, gua masih bisa melihat jelas senyumannya, senyuman yang selalu
gua rindukan setiap harinya. Suaranya memanggil nama gua dengan berteriak
seperti terngiang di telinga setiap kali memikirkannya.
Setelah beberapa menit larut
dalam lamunan beberapa orang pekerja yang sedang membangun lantai 4 sekolah
turun untuk istirahat, diam-diam gua naik ke atas dan duduk di ujung beton
sambil mengayun-ngayunkan kaki.
Dari atas
sini terlihat beberapa siswa yang sedang asik ngobrol-ngobrol di bawah pohon
rindang yang berada dekat lapangan upacara. Lalu satu persatu dari mereka mulai
pergi sampai sekolah terlihat begitu lengang hanya tinggal beberapa orang siswa
yang sedang berjalan menuju gerbang untuk pulang.
“Za… boleh gak aku nyusul kamu ? aku pengen lompat”
gua mulai bicara sendiri
"................"
"Engga boleh ya ? "
“…………..”
“Za… Gimana kabarmu di sana ?”
“…………”
"Kamu pasti baik-baik aja ya di sana, aku
kesepain Za"
“Za.. aku kangen, kamu kangen gak ?”
“………..”
“Za... jawab dong” gua terus
bicara sendiri sambil menatap awan di atas sana yang sedang berjalan tertiup
angin
“BEGO”
“………..” Gua langsung diam saat
mendengar suara yang engga asing yang terdengar dari lantai 3 di bawah gua
“Ngomong sendiri kaya orang gila” Lanjutnya
“………..”
Tanpa meladeni ucapannya gua
berdiri dan turun ke lantai 3, dari kejauhan terlihat Dian yang sedang menatap
gua yang sedang berjalan ke arahnya. Lalu gua menoyor kepalanya “Lo gak ngerti” kata gua sambil berdiri
menatapnya.
“kaka yang engga ngerti” Protes dia sambil
merapihkan poninya
“Lo gak tau gimana rasanya”
“aku emang gak pernah pacaran
jadi aku gak tau gimana rasanya di tinggalin pacar, tapi aku tau gimana rasanya
kehilangan orang yang aku sayang”
“Anak kecil tau apa sih”
“Aku udah gede kakaaaaa”
DRET DRET
DRET DRET….
Hp gua bergetar ada panggilan masuk dari Warnet
Gua
“Hallo”
Vina
“Mas,
bisa ke warnet sekarang !”
Gua
“Ada
apaan ? kok kayanya panik bener”
Vina
“Mas
sini aja, saya juga gak tau ini kenapa”
Gua
“Iya
saya ke sana”
Tut tut tut.... gua tutup telpon sepihak
“Mau ke mana Ka ?” Tanya Dian saat gua berjalan
meninggalkannya
“Ada urusan” gua jawab tanpa menolehnya
Baru turun ke lantai 2 ada
Piccolo yang baru keluar dari perpus manggil gua, lalu gua berhenti dan melihat
dia berjalan mendekat.
“…………..” Gua hanya diam sambil menatapnya seolah
isyarat “ada apa?”
“Sebelumnya, saya mau minta maaf
soal kejadian tempo hari, saya kebawa emosi jadi main pukul kamu”
“…………..”
“Saya turut berduka, saya-“
“Udah pak” belum selesai Piccolo
bicara gua memotong “Saya udah maafin bapak, saya juga minta maaf udah gak
sopan”
“Yang salah Bapak bukan kamu,
Kalo bapak di posisi kamu mungkin bapak juga bakalan ngelakuin hal yang sama,
kamu sing sabar ya, Allah engga pernah tidur”
“Iya Pak
saya
pulang dulu ya lagi ditungguin”
“Iya hati-hati”
Lalu gua lanjut berjalan turun ke parkiran untuk
ngambil motor, sepanjang jalan perasaan gua campur aduk, apa maksud “Allah
engga pernah tidur ?” gua terus memikirkan perkataan Piccolo sampai gua
berhenti di parkiran Warnet yang kosong pedahal biasanya penuh motor pelanggan.
Lalu gua turun dari motor dan berjalan masuk ke dalam.
“Kok sepi ?” Tanya gua ke Vina yang lagi sendirian
duduk di server
“Tadi koneksi gangguan pak”
“Terus sekarang udah normal ?”
“Udah pak tapi”
“Tapi apa ?”
“Komputernya gak bisa nyala”
“Maksudnya gak bisa nyala gimana ? Arez kemana
emang ?”
“Arez meriang pak, jadi dia gak
bisa masuk, udah saya coba nyalain semua tapi monitornya tetep gak ada tampilan”
“Masa sih
”
Gua coba berjalan dan menekan
satu persatu tombol power computer, lalu gua berjalan dan melihat semua
computer yang nyala namun engga ada respon dari monitor. Gua coba periksa
listrik tapi semua engga ada masalah, lalu gua coba buka casing computer untuk
memastikan apa ada yang konslet atau RAM yang bermasalah.
“Wah kipasnya copot Vin” Kata gua
saat melihat fanprossesor yang menggantung dengan kabel yang masih menempel di
motherboard, “MAS PROSSESORNYA KOSONG”
kata
Vina yang berdiri di samping gua terkejut sambil
menunjuk tempat prossesor yang kosong
“Ya Allah.. ini mah kita kebobolan” gua lanjut buka
semua casing computer dan mendapati
RAM dan Prossesor yang udah engga ada di tempatnya.
“Coba liat CCTV Vin”
“Kan lagi rusak pak”
“Tadi kamu ninggalin warnet kosong engga ?”
“Td waktu gangguan kan saya balikin kombalian yang
pada maen paket tapi kertas abis waktu ada yang print, jadi berhubung saya
kenal beberapa orang yang masih di net jadi saya keluar bentar beli kertas
soalnya stok abis. Tapi waktu saya balik lagi tinggal ada Emba-emba yang print
sama cowonya yang nungguin saya beli kertas, terus dia lanjut print makalah
gitu. Nah pas lagi ngeprint ada cowo rada gondrong masuk, kayanya dia temen dua
orang ini. Trus dia keluar lagi bawa tas si cowo yang masih duduk di PC nomor
17, abis prinan beres mereka berdua juga ninggalin warnet mas. Saya bebersih
sambil nunggu koneksi normal, trus waktu udah normal anak-anak yang pada di
luar nungguin koneksi normal saya panggil. Tapi mereka bilang komputernya engga
pada bisa nyala, saya coba cabut kabel powernya trus pasang lagi tapi emang
nyala cuma gak ada tampilan di monitornya, saya coba nyalain semua komputer
tapi semuanya sama aja. trus saya telpon Mas”
Mata Vina berkaca-kaca setelah menceritakan
kronologi kejadian, gua coba menenangkannya
sambil menyeka air matanya yang
mulai membasahi wajah cantik seorang mahasiswa semester 2 yang umurnya Cuma 1
tahun lebih muda dari gua.
“Ini bukan salah kamu, ini
musibah, mungkin kita kurang bersedekah atau mungkin emang waktunya sial aja”
“Tadi waktu saya rapihin keyboard
sama mouse gak tau kalo computer abis dibobol, baud nya aja masih pada nempel”
“Mereka udah ahli, saya pernah
denger di Bekasi banyak warnet yang kasusnya sama kaya gini, eh udah nyampe
sini aja”
“Terus gimana dong mas ?”
“Kamu jangan bilang siapa-siapa ya, kalo ada yang
mau maen bilang aja lagi perbaikan,
Arez, Andi, Kiki entar saya kasih tau juga”
“Trus sekarang gimana ?”
“Yah mau gimana lagi, mendingan kamu buatin saya
kopi gih”
“iya mas”
Lalu Vina berjalan naik kelantai 2, gua duduk di
bangku server dan memutar lagu yang pertama kali gua dan Kanza dengar saat
Warnet ini baru dibangun. Setelah kepergian Kanza hanya lagu ini yang selalu
gua putar, lagu ini seolah memberikan ketenangan tersendiri
I'm telling you
I softly whisper
Tonight tonight
You are my angel
Aishiteru yo
Futari wa hitotsu ni
Tonight tonight
I just say…
Wherever you are, I'll always make you smile
Wherever you are, I'm always by your side Whatever you say, kimi wo omou
kimochi
I promise you "forever" right now
I don't need a reason
I just want you baby
Alright alright
Day after day
Kono saki nagai koto zutto
Douka konna boku to zutto
Shinu made stay with me
We carry on…
Wherever you are, I'm always by your side
Whatever you say, kimi wo omou kimochi
I promise you "forever" right now
Wherever you are, I'll never make you cry
Wherever you are, I'll never say goodbye
Whatever you say, kimi wo omou kimochi
I promise you "forever" right now
Bokura ga deatta hi wa futari ni
totte ichiban me no kinen no subeki hi da ne Soshite kyou to iu hi wa futari ni
totte niban me no kinen no subeki hi da ne
Kokoro kara aiseru hito
Kokoro kara itoshii hito
Kono boku no ai no mannaka ni wa itsumo kimi ga iru
kara
Wherever you are, I'll always make you smile
Wherever you are, I'm always by your side
Whatever you say, kimi wo omou kimochi
I promise you "forever" right now
Sayup-sayup lirik lagu ini membuat kenangan tentang
kita seolah diputar kembali.
“Za…. Aku harus gimana ?”
Tanpa sadar gua mengajukan
pertanyaan, belum hilang kesedihan di tinggal Kanza sekarang gua harus mengalami
masalah lain. Warnet ini adalah usaha yang gua rencanakan untuk mencari uang
yang akan gua gunakan untuk melamar Kanza, apa karena Kanza yang pergi jadi
usaha ini Bangkrut. Engga-engga, gua jangan mikir yang aneh-aneh, semua ini
cobaan. Iya gua yakin semua ini cobaan. Allah engga mungkin ngasih cobaan di
luar batas kemampuan hambanya, gua yakin gua bisa lewatin masa-masa sulit ini.
Tapi uang dari mana buat beli 35 Unit Prossesor AMD
Phenom™ dan 4 GB Ram yang ilang, sedangkan uang modal pembuatan warnet aja baru
kembali 80%. Apa yang harus gua lakukan ? aaarrrghhh pikiran gua makin gak
karuan,
Za… kalo kamu ada di sini pasti kamu bisa langsung nenangin aku, Za..
please hug me
now 
Aku Kau dan sabun Part 44