Aku Kau dan Sabun Part 80



Gua pacu motor dengan kecepatan sedang karena rasa sakit yang gak kunjung hilang ditambah udara yang terasa semakin dingin. Sepanjang jalan gua terus memikirkan perkataan Mona tadi, mencari orang yang terlihat sempurna atau menerima orang yang memiliki banyak kekurangan tapi ternyata sempurna untuk kita. Siapa orangnya ? ahh kepala gua terasa pusing memikirkan semua itu.

Saat melewati sebuah tikungan tiba-tiba pengelihatan gua berbayang, lampu-lampu kendaraan dari arah berlawan terasa begitu menyilaukan.

TIIIIIIDDDDD............

sebuah kelakson panjang terdengar dengan lampu yang begitu menyilaukan mata sampai semua terlihat putih.

……………….

………………….

………………………..

………………………………….

………………………………………….

…………………………………………………


Perlahan gua membuka mata, sekarang cahaya menyilaukan tadi berubah menjadi sebuah lahan kosong yang berada di dataran tinggi, bukit-bukit hijau yang ada di sebrang sana terlihat begitu indah.

Tunggu!! Kenapa gua ada di sini ? di mana motor gua ? begitu banyak pertanyaan yang terlintas, terlebih lagi saat menangadah ke langit dan terlihat empat buah matahari yang berada di timur, selatan, barat dan utara. Walau ada empat buah matahari tapi di sini gak terasa panas.

Gua ambil hp yang ada di saku celana sebelah kiri, jam digital yang tertera di pojok atas menunjukan pukul 23:47 dengan jaringan SOS. Lalu gua kembali memasukan hp ke dalam saku dan coba berjalan menuruni bukit. tapi sepanjang jalan gak ada seorang pun yang gua temui bahkan di sini gak ada tanda-tanda kehidupan karena yang terlihat hanya hamparan rumput hijau yang sangat luas dengan sebuah pohon besar yang sangat tinggi terletak di ujung sana.

Entah berapa lama gua berjalan sampai akhirnya gua berdiri di bawah sebuah pohon dengan ukuran 10 kali lebih besar dari pohon keramat yang ada di dekat rumah. gua berjalan mengelilingi pohon mencari cara untuk memanjatnya, tapi langkah kaki terhenti saat melihat sebuah bunga yang tumbuh di atas akar pohon yang besar.


Gua sedikit merendahkan badan dan jongkok untuk melihat lebih jelas bunga-bunga berwarna merah yang terlihat begitu cantik dan wangi, gua berdiri dan merogoh saku celana untuk mengambil hp.

CKREK… setelah mengambil foto, gua kembali memasukan hp ke dalam saku dan lanjut berjalan mengelilingi pohon. Tapi langkah kaki gua kembali terhenti saat melihat seorang perempuan berlari di padang rumput dengan gerombolan anjing-anjing yang mengejarnya.

Gua ambil ranting pohon yang berukuran sebesar tangan dan menggenggamnya dengan tangan kanan lalu berlari ke arah perempuan yang sedang di kejar-kejar anjing. Dia terlihat heran saat melihat ke arah gua dan seketika anjing-anjing itu langsung berhenti mengejar dan balik berlari terbirit-birit.

Sekarang di hadapan gua ada seorang perempuan dengan dres berwarna coklat, tunggu… itu bukan dres tapi seperti kulit hewan yang dijadikan baju. Bola matanya berwarna biru dengan hidung mancung dan rambut panjang lurus berwarna kuning. Dia sedikit memiringkan kepala kekanan menatap gua heran.

“Kenapa ?” gua coba bertanya

“………….” Dia hanya diam

“Ini di mana ?” Gua kembali bertanya

“………….” Dia masih diam dan berjalan melewati gua,

Gua berjalan mengikutinya ke arah pohon besar,

“Heiii… tunggu” Gua coba memanggilnya

“…………..” Jangankan menjawab, dia malah mempercepat langkah kakinya

Gua berlari mengejarnya dan menggenggap pergelangan tangan kanannya, dia memutar badan PLAK...dia menampar pipi gua dengan tangan kirinya, suaranya begitu keras tapi gak terasa sakit.

“Gua Cuma pengen nanya” Kata gua kesal sambil melepaskan tangannya

“……………” Dia hanya diam dengan wajah terlihat ketakutan

“Jangan takut, gua bukan orang jahat”

“……………” Dia masih diam dengan mata yang menatap wajah gua tanpa berkedip


“Kenapa ? liatnya aneh gitu”

Dia mengangkat tangan kanannya dan memegang rambut gua lalu memegang sesuatu yang menempel di kepala gua. karena penasaran apa yang dia pegang buru-buru gua angkat kedua tangan dan memegang dua buah benda bulat, keras, dan tumbuh miring ke samping dengan

ujung yang lancip gua punya dua tanduk, pantes anjing tadi pada takut . eh tapi  sejak kapan gua punya tanduk ? kenapa bisa ada tanduk di kepala gua ?

“hehehe” Dia kertawa geli melihat gua yang sedang memegangi tanduk, lalu buru-buru gua lepaskan tangan dan menoyor kepalanya

“Gila” kata gua kemudian

“…………” Dia malah cemberut dan merapihkan poninya

“…………” Gua ikut diam, rasanya seperti dejavu. Gua pernah ngalamin ini sebelumnya, tapi kapan ? di mana ? Ditengah kebingungan, dia tersenyum begitu manis. Ahhh sial…. Cara dia tersenyum, gua pernah melihatnya, tapi kapan ?? gua semakin bingung.

Dia berjalan meninggalkan gua lalu berdiri di dekat batang pohon yang besar, lalu dia berbalik badan dengan tangan yang melambai-lambai seolah isyarat meminta gua untuk mengikutinya. Gua berjalan mendekatinya lalu, dia menunjuk ke atas.

“Manjat ?” Tanya gua kemudian

“………….” Dia hanya diam lalu berbalik badan dengan kedua tangannya memegang selah-selah batang pohon dan memanjatnya. Gua ikut manjat di bawahnya.

Karena pakain yang dia kenakan hanya menutupi sampai bagian paha jadi dari bawah sini gua bisa melihat jelas pahanya yang putih mulus  dan saat dia mengangkat

kakinya  kamprettt dia gak pake daleman  pikiran gua langsung keruh saat melihat Vivi yang menyemangati gua yang ada di bawahnya.

Mungkin karena ada pemandangan indah selama manjat, jadi gak terasa kalau kami udah

sampai di puncak pohon. Pedahal gua masih beraharap ini pohon lebih tinggi lagi . Dia duduk di dahan pohon di ikuti gua yang duduk di sampingnya. Pohon ini sangat tinggi dan pemandangan yang terlihat dari sini sangat indah.

“Zelda” Kata dia sambil menjulurkan tangan kanannya


“Kamprett… dia bisa ngomong” batin gua kesal, lalu gua jabat tangannya “Bobi” Kata gua kemudian




Aku Kau dan Sabun Part 81