Aku Kau dan Sabun Part 85



Rasanya jenuh sendirian di dalam kamar, karena bosan gua bawa infusan dan duduk di ruang tunggu yang ada diluar kamar. Pedahal ini belum larut malam, tapi gak ada seorang pun yang gua lihat melewati lorong.

Gua pandangi grimis yang terlihat dibalik kaca jendela yang ada dibelakang tempat duduk, gak ada pemandangan indah karena yang terlihat hanya atap-atap rumah warga yang tinggal didekat Rumah Sakit.

Hp udah seperti bagian tubuh, rasanya ada yang kurang kalau gak menggenggam hp

ditangan . Tanpa Hp dan computer gua hanya bisa melakukan hal yang gua sendiri gak menyukainya, yaitu melamun.

Gua benci melamun, karena setiap kali melamun yang terlintas hanyalah semua kenangan yang pernah terlewati. Hidup gak akan selamanya berjalan mulus, karena pasti akan ada masalah yang datang menghadang. Beberapa orang benci dengan masalah yang mereka hadapi, tapi gua justru menyukai setiap masalah yang datang karena tanpa masalah hidup jadi terasa monoton. Gua selalu berpikir masalah datang untuk dihadapi, dan gua belajar dewasa dari semua permasalahan itu.

Ditengah lamunan beberapa orang perawat datang dengan seorang pasien yang duduk dikursi roda, satu orang perawat muda datang menghampiri gua dan sisanya masuk ke dalam kamar tempat gua di rawat. Akhirnya ada ranjang yang bakalan di isi, itu artinya gua gak bakalan sendirian lagi kalau gak ada yang nemenin.

“Kok diluar, ayo masuk” Kata salah seorang perawat yang berdiri di hadapan gua

“Bosen sendirian di dalem”

“Kemaren saya liat ada yang nemenin terus”

“Yah mereka juga kan punya rumah sus, jadi pulang dulu”

“Yaudah sekarang kamu masuk ya, nanti juga keluarganya dateng lagi”

“Gak mau, kecualiiii”

“Kecuali apa?”

“Kecuali mba ngasih tau pinnya, baru saya masuk”

“Yee kamu ini, ayo ah masuk”

“huh” gua mendengus pelan, lalu bangun dan berjalan masuk bersama perawat muda yang membawa tiang infusan yang tadi gua bawa keluar.

Sekarang hanya tinggal ranjang yang paling dekat dengan pintu yang kosong, karena ada seorang lelaki berusia lanjut yang sedang berbaring di ranjang tengah. Gua duduk di ranjang dengan perawat tadi yang sedang meletakan tiang infusan ditempatnya.

“Lain kali jangan keluar kamar” Kata dia setelah meletakan infusan

“Saya boleh minta tolong mba”

“Saya gak pake BB”

“Wooh pede, saya gak mau minta pin kok”

“Terus minta tolong apa?”

“Temenin saya dulu dong”

“Lain kali aja ya, saya masih banyak kerjaan”

“Entar saya keluar lagi loh kalo gak ada yang nemenin”

“Kalo kamu keluar entar saya suntik biar gak bisa bangun”

“Gak apa-apa saya gak bisa bangun, asal jangan DIRLI aja”

“Dirli siapa ?” Tanya dia heran

“DIRLI itu sesuatu yang sangat berharga Mba, tanpa dia mba juga gak bakalan ada”

“Idihhh ngeres banget”

“Hehe becanda Mba”

“Becandanya nakal ya, saya tinggal dulu masih ada kerjaan” lalu dia berjalan

“Mba” Gua memanggilnya, lalu dia berhanti dan menoleh kebelakang

“Boleh tau namanya siapa ?”

“Fitri” Jawab dia sambil melemparkan senyuman lalu berjalan ke arah pintu dan keluar.


Fitri, sebuah nama yang cantik sama seperti orangnya. Gua rebahkan badan, gua pandangi tirai coklat pembatas antar ranjang lalu perlahan sedikit mengentip ke ranjang sebelah. Seorang bapak-bapak sedang tidur ditemani ibu-ibu yang sepertinya itu istri dia. Ibu-ibu yang menyadari gua mengintip hanya tersenyum, gua yang kegep hanya bisa membalas senyumannya. Gua biarkan gorden pembatas sedikit terbuka dan kembali merebahkan badan menatap langit-langit kamar.

Beberapa menit kemudian pintu kamar terbuka, Mona tersenyum sambil berjalan masuk di ikuti beberapa temen kampus yang membawa bungkusan plastik putih. Gak banyak yang kami bicarakan karena pasien sebelah sedang tidur jadi gak enak kalo sampe suara kami membangunkannya. Sebelum pulang Mona memberitahu kalau kedua orang tua gua bakalan datang besok pagi, dia juga gak bisa nemenin karena besok pagi harus mengantar nyokapnya. Sebagai gantinya untuk menghilangkan kejenuhan Mona meninggalkan laptop dan Moden untuk gua gunakan.

Gua sedikit buka gorden pembatas, bapak-bapak yang tidur di ranjang sebelah sedang tidur dan istrianya tidur di ranjang kosong dekat pintu. Walau sekarang di kamar ini gua gak

sendirian tapi rasanya gua masih kesepian . Gua keluakan laptop yang berspek tinggi yang tadi Mona berikan lalu memasang modem untuk menjelajahi internet, melihat jumlah kuota modem yang begitu banyak terlintas pikiran untuk mendownload aplikasi emulator android.

Sekitar 20 menit kemudian, emulator bisa dijalankan. Yang pertama kali gua install adalah game yang udah beberapa hari gak gua mainkan. Untungnya di dalam tas laptop terdapat mouse jadi gua bisa memainkan gamenya dengan nyaman walau lebih nyaman bermain di hp.

Gua buka menu chat clan

Gua : “Tes”

Rifal : “Wew Lider spawn”

Gua : “Sial, lo kira gua momon”

Rifal : “Hahaha, eh lo beneran pensi P*W ?”

Gua : “Iya gua pensi, lo masih maen ?”

Rifal : “Ini gua sambil war di salju”

Gua : “sama guild apa warnya ?”

Rifal : “Biasa, yang punya wilayah songong”

Gua : “Mereka kan kalo war ampe diturunin semua, emang guild kita udah kuat ?”

Rifal : “HAHAHAHA jangan salah, sekarang guild kita udah punya 3 wilayah”

Gua : “Wow, agresi udah dimulai ya”

Rifal : “Iya, lo maen lagi dong”

Gua : “Engga ah, harganya jatoh banget”

Rifal : “Iya sih, sekarang pasaran gold bener-bener jatoh”

Mona : “BOBIIIII”

Gua : “APAAAAAAA”

Mona : “Istirahat kamu, udah malem ini”

Gua : “Belum ngantuk, bentar lagi”

Mona : “Pokonya sekarang, gak pake nego”

Gua : “Iya iya”

Gua menutup kolom chat tapi bukannya tidur malah farming , entah kenapa gua begitu senang malam ini. Mungkin karena bisa kembali main game atau karena ada yang memaksa gua untuk istirahat ? entahlah.

Disaat lagi asik melakukan serangan pintu kamar terbuka. Dua orang perempuan terlihat dari celah gorden yang masih sedikit terbuka, satu orang yang keliatan lebih tua duduk diranjang tengah dan satu lagi yang mengenakan jilbab pink duduk di ranjang paling ujung sambil membangunkan ibu-ibu yang ada di atasnya.

Setelah ibu-ibu itu bangun perempuan tadi balik badan dan menatap bapak-bapak yang masih tidur lelap. Gua terus memperhatikan mereka bertiga yang sedang ngobrol, tapi mata gua hanya tertuju pada perempuan yang mengenakan jilbab.

Ditengah obrolan dia melirik gua yang dari tadi memperhatikannya, gua yang kembali kegep

hanya bisa melemparkan senyuman lalu dia pun tersenyum  senyuman itu  pantes dia seperti gak asing, dia yang salah kamar.



Aku Kau dan Sabun Part 86