Aku Kau dan Sabun Part 86



Malam semakin larut, Pedahal gua masih pengen curi-curi pandang tapi apa daya gorden pembatas ranjang paling ujung ditutup rapat . gua close emulator android dan membuka my computer mencari film yang bisa gua putar.

Gak ada film baru, semuanya hanya film yang Mona pinta dari gua . Ada yang menarik perhatian gua, sebuah folder dengan tulisan XXX dibawahnya. Karena penasaran gua buka

folder itu, KAMPRET isinya ternyata tugas kampus  pedahal udah ngarep isinya film xxxx .

DIRLI meronta-ronta, gua turun dari Rajang dan membawa tiang infusan menuju kamar mandi yang ada di dekat pintu. Langkah kaki gua terhenti saat melewati ranjang dengan perempuan berjilbab pink sedang tidur dengan posisi miring di atasnya, sedangkan dua orang lainnya tidur di bawah dengan karpet yang mereka bawa.

CKREK,

gua buka pintu kamar mandi dan masuk ke dalamnya. Gua sedikit kesuliatan saat mengeluarkan dirli karena harus hati-hati menggerakan tangan kiri. Haaa…. Lega rasanya, sekarang DIRLI gak lagi meronta-ronta. Setelah selesai gua kembali membuka pintu kamar mandi,

“HUAA” Gua sedikit terhentak saat melihat gadis berjilbab pink sedang berdiri di dekat pintu kamar mandi. “Ngagetin aja ” Kata gua kemudian

“Maaf a’ gak bisa tidur, sini aku bawain” kata dia sambil menjulurkan tangan, lalu gua memberikan tiang infusan dan berjalan menuju ranjang di ikuti dia di belakang.

Setelah meletakan tiang infusan dia ikut duduk di samping gua,

“Sendirian aja Om?”

“Njirrr gua dipanggil Om  ” Batin gua “Tadi sih engga, Cuma lagi pada pulang dulu” kata gua kemudian

“kirain gak ada yang nengokin”

“Njirrr  miris amat kalo ampe gak ada yang nengokin”

“Eh iya, cewenya mana Om ?”

“Gua gak punya cewe  jangan dipanggil Om dong


“hehe maaf ‘a, abisnya keliatan udah tua”

“BUSET jujur banget nih orang” Batin gua “Emang gua setua itu ya

“Cuma becanda ‘a”

“Eh lo yang kemaren bilang salah masuk kamar kan ?”

“iya ‘a, Kemaren aku kira Abah udah dipindahin ke sini, eh gak taunya Cuma ada ‘aa sama cewenya”

“itu sepupu gua

“oh sepupu, aa dari mana ?”

“Maksudnya ?”

“Maksud aku, aa tinggal di mana gitu”

“Gua asli sini, lo sendiri ?”

“Aku dari ciawi ‘a”

“Emang di sana gak ada rumah sakit ampe di bawa ke sini ?”

“Ada sih, cuman Uwa yang nanggung brobatnya jadi yah giamana uwa aja dibawanya kemana”

“Oh gitu”

“Iya, kalo boleh tau namanya siapa ‘a ?”

“Panggil aja Bobi, lo sendiri ?”

“Aku Fadilah, tapi panggil aja Dila” lalu dia tersenyum

Gua selalu menyukai perempuan berambut panjang tapi untuk Dila, gua punya pengecualian. Dia terlihat anggun dan manis dengan jilbab berwarna pink yang dia kenakan, cara bicaranya yang ramah membuat gua jadi langsung bisa akrab dengannya. Setelah mengetahui namanya gua jadi lebih nyaman ngobrol sampai lupa waktu.

Banyak yang kita bicarakan, Gua jadi tahu kalau Usianya baru menginjak 19 tahun, dia baru


lulus tahun lalu sama seperti gua tapi dia gak melanjutkan kuliah melainkan kerja disebuah Pabrik.

“Pabrik mana ?” Tanya gua penasaran

“Udah keluar, sekarang kerja di Alf*mart”

“Oh kirain masih, di daerah sini Alf*mart nya ?”

“Engga ‘a, tapi deket pemda”

“Berati tiap hari lo bolak balik Ciawi-pemda gitu ?”

“Aku ngekos dibelakang warnet ‘a”

“Hah bentar-bentar, lo kerja di Alf* yang sampingnya ada warnet ?”

“Iya, Aa tau tempatnya ?”

“Itu warnet gua

“Yang bener ‘a ? kok aku gak pernah liat ya kalo lagi maen”

“Gua Cuma turun ke bawah kalo ada servisan aja, Gua juga gak pernah liat lo kalo lagi

belanja

“Oh pantesan aja, aku baru sebulan kerja disitu. Aneh ya ‘a hihihi”

“Apanya yang aneh ?

“Aku ngekos di belakang warnet, kerjanya juga bersebelahan tapi kita kenalnya malah di sini” lalu dia tersenyum, senyuman yang begitu manis dan membuat gua terpesona dibuatnya

“……….” Gua hanya diam menatap wajahnya, hidungnya yang mancung, bulu matanya yang lentik, sepertinya dia sangat merawat wajahnya karena gua gak melihat bekas jerawat satupun. “Iya Aneh” kata gua kemudian, lalu dia kembali tersenyum.

“Hehe, aku ngantuk ‘a”

“Tidur gih, gua juga udah ngantuk

“Iya ‘a ” Dia kembali tersenyum lalu pergi meninggalkan gua sendirian,


Mona pernah bilang kalau gua harus memilih untuk tetap mencari yang terlihat sempurna atau menerima orang yang menyayangi gua. Tapi kalau bertemu orang yang terlihat sempurna karena sebuah musibah, sepertinya hanya ada satu pilihan. Yaitu Bersyukur, karena
dari musibah ini gua jadi bisa mengenalnya



Aku Kau dan Sabun Part 87