Malam semakin larut, Pedahal gua
masih pengen curi-curi pandang tapi apa daya gorden pembatas ranjang paling
ujung ditutup rapat
. gua close emulator android dan membuka my
computer mencari film yang bisa gua putar.
Gak ada film baru, semuanya hanya
film yang Mona pinta dari gua
. Ada yang menarik perhatian gua, sebuah
folder dengan tulisan XXX dibawahnya. Karena penasaran gua buka
folder itu, KAMPRET
isinya ternyata tugas kampus
pedahal udah ngarep isinya film xxxx
.
DIRLI meronta-ronta, gua turun
dari Rajang dan membawa tiang infusan menuju kamar mandi yang ada di dekat
pintu. Langkah kaki gua terhenti saat melewati ranjang dengan perempuan
berjilbab pink sedang tidur dengan posisi miring di atasnya, sedangkan dua
orang lainnya tidur di bawah dengan karpet yang mereka bawa.
CKREK,
gua buka pintu kamar mandi dan
masuk ke dalamnya. Gua sedikit kesuliatan saat mengeluarkan dirli karena harus
hati-hati menggerakan tangan kiri. Haaa…. Lega rasanya, sekarang DIRLI gak lagi
meronta-ronta. Setelah selesai gua kembali membuka pintu kamar mandi,
“HUAA” Gua sedikit terhentak saat melihat gadis
berjilbab pink sedang berdiri di dekat pintu kamar mandi. “Ngagetin aja
” Kata gua kemudian
“Maaf a’ gak bisa tidur, sini aku
bawain” kata dia sambil menjulurkan tangan, lalu gua memberikan tiang infusan
dan berjalan menuju ranjang di ikuti dia di belakang.
Setelah meletakan tiang infusan dia ikut duduk di
samping gua,
“Sendirian aja Om?”
“Njirrr gua dipanggil Om
”
Batin gua “Tadi sih engga, Cuma lagi pada pulang dulu” kata gua kemudian
“kirain gak ada yang nengokin”
“Njirrr
miris
amat kalo ampe gak ada yang nengokin”
“Eh iya, cewenya mana Om ?”
“Gua gak punya cewe
jangan
dipanggil Om dong
”
“hehe maaf ‘a, abisnya keliatan udah tua”
“BUSET jujur banget nih orang” Batin gua “Emang gua
setua itu ya
”
“Cuma becanda ‘a”
“Eh lo yang kemaren bilang salah masuk kamar kan ?”
“iya ‘a, Kemaren aku kira Abah
udah dipindahin ke sini, eh gak taunya Cuma ada ‘aa sama cewenya”
“itu sepupu gua
”
“oh sepupu, aa dari mana ?”
“Maksudnya ?”
“Maksud aku, aa tinggal di mana gitu”
“Gua asli sini, lo sendiri ?”
“Aku dari ciawi ‘a”
“Emang di sana gak ada rumah sakit ampe di bawa ke
sini ?”
“Ada sih, cuman Uwa yang nanggung
brobatnya jadi yah giamana uwa aja dibawanya kemana”
“Oh gitu”
“Iya, kalo boleh tau namanya siapa ‘a ?”
“Panggil aja Bobi, lo sendiri ?”
“Aku Fadilah, tapi panggil aja Dila” lalu dia
tersenyum 
Gua selalu menyukai perempuan
berambut panjang tapi untuk Dila, gua punya pengecualian. Dia terlihat anggun
dan manis dengan jilbab berwarna pink yang dia kenakan, cara bicaranya yang
ramah membuat gua jadi langsung bisa akrab dengannya. Setelah mengetahui
namanya gua jadi lebih nyaman ngobrol sampai lupa waktu.
Banyak yang kita bicarakan, Gua jadi tahu kalau Usianya
baru menginjak 19 tahun, dia baru
lulus tahun lalu sama seperti gua
tapi dia gak melanjutkan kuliah melainkan kerja disebuah Pabrik.
“Pabrik mana ?” Tanya gua penasaran
“Udah keluar, sekarang kerja di Alf*mart”
“Oh kirain masih, di daerah sini Alf*mart nya ?”
“Engga ‘a, tapi deket pemda”
“Berati tiap hari lo bolak balik Ciawi-pemda gitu ?”
“Aku ngekos dibelakang warnet ‘a”
“Hah bentar-bentar, lo kerja di Alf* yang
sampingnya ada warnet ?”
“Iya, Aa tau tempatnya ?”
“Itu warnet gua
”
“Yang bener ‘a ? kok aku gak pernah liat ya kalo
lagi maen”
“Gua Cuma turun ke bawah kalo ada servisan aja, Gua
juga gak pernah liat lo kalo lagi
belanja
”
“Oh pantesan aja, aku baru sebulan kerja disitu.
Aneh ya ‘a hihihi”
“Apanya yang aneh ?
”
“Aku ngekos di belakang warnet,
kerjanya juga bersebelahan tapi kita kenalnya malah di sini” lalu dia
tersenyum, senyuman yang begitu manis dan membuat gua terpesona dibuatnya
“……….” Gua hanya diam menatap wajahnya, hidungnya
yang mancung, bulu matanya yang lentik, sepertinya dia sangat merawat wajahnya
karena gua gak melihat bekas jerawat satupun. “Iya Aneh” kata gua kemudian,
lalu dia kembali tersenyum.
“Hehe, aku ngantuk ‘a”
“Tidur gih, gua juga udah ngantuk
”
“Iya ‘a
” Dia kembali tersenyum lalu pergi meninggalkan
gua sendirian,
Mona pernah bilang kalau gua harus memilih untuk
tetap mencari yang terlihat sempurna atau menerima orang yang menyayangi gua.
Tapi kalau bertemu orang yang terlihat sempurna karena sebuah musibah,
sepertinya hanya ada satu pilihan. Yaitu Bersyukur, karena
dari musibah ini gua jadi bisa mengenalnya 
Aku Kau dan Sabun Part 87