Aku Kau dan Sabun Part 90



Pagi yang cerah di hari Sabtu, gua buka rolingdoor toko yang hampir dua minggu tutup. Walau setiap hari dibersihkan karyawan warnet tapi debu-debu yang entah dari mana asalnya melapisi lantai dan etalase kaca penjualan.

Dahlan yang jadi Operator pagi sempat ingin membantu gua membersihkan toko tapi karena ini liburan sekolah jadi gua memintanya focus di warnet. Setelah semua rapih, gua putar papan bertuliskan “TUTUP” yang menggantung pada pintu kaca jadi “BUKA”

Mungkin karena belum pada tahu kalau toko udah buka kembali jadi pagi ini hanya ada dua orang pelanggan yang membeli RAM dan Keyboard. Gua duduk di balik etalase kaca sambil memainkan computer yang biasa digunakan Vina. My Computer –> Drive D -> Vina, Tanpa membuka foldernya gua tekan SHIFT+DEL. Semua file milik Vina terhapus, bukan gua membencinya tapi isi file ini adalah foto-foto kami saat masih bersama. Koleksi foto di hp udah gua hapus, jadi gua juga ingin menghapus foto yang ada di computer toko.

Gua rogoh saku celana dan mengeluarkan gadget berukuran 5” yang biasa gua gunakan setiap hari, gua mainkan game untuk sekedar menghilangkan kejenuhan.

Ada 100 notif chat, gua buka kolom chat dan scroll kebawa membaca isi percakapan anggota clan. Sepertinya clan sedang war dengan lawan tangguh karena sampe ribut di chat, lalu gua klik clan casltil dan meminta troper dengan pesan “Bagi Naga / Balon / Hog / Wz

Beberapa detik kemudian ada kiriman pasukan dari Mona, buru-buru gua klik kolom chat dan mengetik

Gua : “Mona minta di jitak”

Zak : “Dikasih goblin ya ?”

Gua : “Iya”

Zak : “Hahaha Pe’a tuh anak, gua malah di kasih Wall breaker -__-“

Mona : “Lagi dimasak, selagi nunggu mateng kamu farming dulu aja ya

Gua : “Kampret, sayang shield gua masih 2 hari lagi

Diki : “Beli lagi Bob, gemes lo banyak ini”

Za : “Masa lebih sayang ama shield dari pada cewenya hahaha”

Gua : “Sial, mulai dah

Zak “ HAHAHAHAHA”

Darno : “Lo mau nyerang nomor berapa emang ?”

Gua : “Nomor 15”

Darno : “Jatah lo nomor 1 tuh”

Gua : “Nah, itu lo tau segala pake nanya”

Anggota clan gua rata-rata para penggunjung warnet, kerabat, dan karyawan warnet yang gua hasut untuk ikut bermain , karena jenuh Cuma chat aja jadi gua gunakan goblin pemberian Mona untuk farming .

Ditengah asik bermain game, pintu kaca toko terbuka. Dila berjalan masuk sambil melemparkan senyuman manisnya.

Gua lihat jam yang menempel pada dinding menunjukan pukul 11:30, lalu gua kembali menatap Dila yang sekarang berdiri di depan etalase.

“Shift 2 ?” Tanya gua

“Engga ‘a”

“Trus kok udah gak pake seragam ?”

“Aku baru ngundurin diri”

“Kenapa  ?”

“Umi nyuruh aku pulang ‘a”

“Disuruhnya kan pulang bukan berenti kerja

“Kemaren waktu pulang kerja kamar aku kuncinya rusak”

“………….” Gua diam karena gak ngerti apa yang dia katakan

“Hp, uang, sama laptop aku ilang, umi takut aku kenapa-napa jadi disuruh pulang”


“Maksudnya dirusak maling ?” “Ia ‘a”

“Bukannya disitu ada gerbangnya ya ?”

“Ada, yang lain aja pada bingung Cuma kamar aku aja yang dibobol pedahal kamar yang lain juga pada kosong kalo siang”

“Orang dalem kali yang ngambil”

“Aku gak mau su’udzon, bukan rezeki aku aja kali itu” “Terus kalo gitu lo mau kerja di mana ?”

“Entar nyari lagi, baru buka ya ‘a ?” “Iya nih”

“Kok sendirian aja ?”

“Dua orang karyawan lamanya udah ngundurin diri” “Engga cari karyawan baru aja ?”

“Entar kalo toko udah mulai rame lagi baru nyari karyawan” “Maklum ‘a ampir dua minggu tutup jadi masih sepi”

“Iya, lo mau gak kerja di sini ?” “Aku gak ngerti computer ‘a”
“Bukan bagian teknisi, buat bagian penjualan aja” “Yang bener ‘a ?”

“Iya, ada fotocopy KTP kan ? buat ngisi data karyawan” “Ada tapi di kos’an”

“Oh ya udah, entar ambil aja sekalian sama isi kos’annya”

“Kok sama isinya ?”

“Di atas ada kamar kosong, kalo mau lo pake aja kamarnya. Lumayankan gak perlu sewa kosan, aman lagi”

“Makasih ‘a, tapi aku nanya Umi dulu boleh gak kerja di sini”

“Ia minta izin dulu aja”

“Bentar ya ‘a”

Dila merogoh saku celana jeansnya dan berjalan meninggalkan toko dengan telpon genggam yang menempel di telinga kanan. Dari sini gua bisa melihat dia seperti sedang bicara dengan seseorang ditelpon, lalu gak lama dia kembali masuk ke dalam.

“Gimana ?”

“Kata Umi gak apa-apa kerja di sini, asal disuruh hati-hati naro uangnya”

“Taro di Bank lah duitnya

“Kemaren juga uang yang ilang baru aku ambil dari ATM buat bayar kosan sama beli lemari plastik, ehh emang dasar gak milik kali jadi diambi orang duluan”

“Yaudah, ikhlasin aja kalo gitu"

"Iya "

"Mau liat kamarnya gak ?” Tanya gua

“Mau ‘a”

Gua berjalan menaiki tangga yang ada di sudut toko diikuti Dila di belakang,

CKREK.. gua buka pintu kamar, setelah pintu terbuka gua masuk ke dalam di iktu Dila yang berdiri di pintu memandangi seisi kamar.

“Aku gak apa-apa tinggal di sini ‘a ?”

“Emangnya kenapa ?”

“Lengkap banget isinya”

“Tadinya ini bekas keryawan lama, Cuma sekarang kosong jadi kamu bisa tinggal di sini”

“Emang karyawan lamanya kemana ?”

“Dia nikah jadi pulangkampung”

“Entar balik lagi ke sini gak ?”

“Engga, dia tinggal ama suaminya di Jawa”

“……………” Dila hanya diam, dia berjalan ke arah ranjang

“Mampus” batin gua

“Ini siapa ‘a ?” Tanya dia sambil menunjuk foto yang menempel pada dinding kamar

“Itu yang tadi diceritain”

“Dia karyawan atau mantan aa ? kok mesra banget fotonya”

“………….” Sekarang gua yang diam, gua copot foto yang dilem lalu memegangnya dengan kedua tangan. Dila menatap gua penuh Tanya “Bener semua” Kata gua kemudian

“Maaf ya ‘a”

“Maaf kenapa ?”

“Abis aa keliatan kaya sedih gitu liatin fotonya”

“………….” Gua masukan foto ke dalam saku celana dan menatap Dila “Engga kok, mau pindahan kapan ?”

“Sekarang aja gimana ?”

“Boleh”

Kami turun ke lantai bawah dan meninggalkan toko dengan Dahlan yang gua pinta untuk menggantikan gua di toko.

CKREK, Dila membuka pintu kamar kos’annya.

“…………..” Gua hanya menelan ludah saat melihat isi kamarnya. Galon, tumpukan baju di dalam kardus mie instan, strikaan, magic com, dan karpet serta bantal.

“Cuma segini ‘a barang-barangnya, kaya lapangan ya masih lega”

“Kamu tidur gak pake kasur ?”

“Engga ‘a, awalnya pada sakit sih tapi kelamaan juga aku jadi biasa”

“Hebat ya”

“Hebat kenapa ‘a ?”

“Kalo gua kayanya gak bakalan betah tinggal di sini”

“Huh aa mah biasa tidur di kelonin sih”

“Njirrr pikiran gua bercabang

“Kok bercabang  ?”

“Udah udah, kamu bawa bajunya sisanya gua aja yang bawa” gua coba mengalihkan pembicaraan

“Iya ‘a”

Lalu kami mulai membawa satu persatu barang-barang yang ada di kosan ke kamar atas toko, karena barang-barang yang sedikit jadi gak membutuhkan waktu lama untuk pindahan.

Hari ini, disaat toko baru mulai dibuka kembali gua mendapatkan karyawan baru. Walau gua senang dia kerja dan tinggal di sini, tapi ada satu hal yang gua takutkan.

Gua hanya takut suatu saat nanti akan jatuh hati padanya, dia orang baik-baik dan solehah. sedangkan gua ? orang yang berlumuran dosa. Andai prasaan bisa dikendalikan dengan otak, mungkin gua akan memblokir namanya. Tapi kenyataannya saat kita mengagumi seseorang rasa suka akan perlahan tumbuh dan disaat itu Otak takan bisa berbuat apa-apa


Aku Kau dan Sabun Part 91